Idea From Other Writings

1. The Fiscal Challenge, OECD (http://www.oecd.org/document/35/0,3746,en_2649_201185_46651043_1_1_1_1,00.html)

“The OECD view is clear. What the recovery needs is for governments to restore order to public finances while enacting reforms in the structure of their economies to enable growth to take hold. These include changes to streamline administration, activate labour markets, improve competition and bolster spending on social security. It means targeting taxes that favour greener growth, and focusing spending on education, innovation, healthcare and infrastructure. And it means doing all of this while continuing to support development aid and investment in poor countries.”

I think it is an idea about what we can do. First change is in how government run its operation. Bureaucracy reform towards a more professional, clean, and transparent government are the key. Second is activate labour market. Although it’s easier to say, this endeavor could be done by improving the business climate, like permitting process, tender, etc. Besides that, an easier way of small credit channeling is also important. Third is improving the competition. A health competition. The next one is about the social security. This is also important, regarding the abundant fact of street kids in indonesia. However, government already try by making the tuition fee for elementary and junior high school free. But, still there are a lot of things to do. The last one is about the tax policy which favoring the greener growth. I still don’t have any idea bout how to determine the correct tax rate which will boost the economic growth but also become optimum for government revenue. I still need to read theory about that.

Salt Lake City, December 13th 2010

2. Writing by Dr Anies Baswedan

The writing below was out for the public on July 25th 2011. I can say it’s a very good essay, It’s al what I’m thinking also about. Please read.

Peringatan bagi Pemimpin

Anies Baswedan

Makin hari kegalauan itu tumbuh makin pesat, tetapi berhentilah mengatakan bangsa ini bobrok. Hentikan tudingan bahwa bangsa ini tenggelam. Tidak! Bangsa ini sedang bangkit dan akan makin tinggi berdirinya.

Lihatlah rakyat di sana-sini, bangun sebelum pagi, penuhi pasar rakyat, padati jalan dan kelas, menyongsong kehidupan. Dengan sinar lampu apa adanya mereka coba sinari masa depan sebisanya. Petani, guru, nelayan, pedagang, atau tentara di tepian republik jalani hidup berat penuh tanggung jawab. Di tengah kepulan polusi pekat, rakyat kota menyelempit mencari masa depan. Mereka rebut peluang, jalani segala kesulitan tanpa pidato keprihatinan. Rakyat yang tegar dan tangguh. Denyut geraknya membanggakan.

Kegalauan republik ini bukan bersumber pada rakyat, melainkan pada pengurus negara yang seakan berjalan tanpa target. Deretan agenda penting dan urgen jadi wacana, tetapi tidak kunjung jadi realitas.

Pengurus republik sukses membangun kekesalan kolektif dan menanam bibit pesimisme. Pimpinan kini menuai kekecewaan. Harapan, kepercayaan, pengertian, toleransi, kesabaran, dan permakluman rakyat kepada pemimpin dikuras terus. Apakah dikira stok permakluman itu tanpa batas?

Dengan hormat saya sampaikan: stok itu ada batasnya dan sudah menipis. Semua ingin lihat hasil. Tak mau lagi dengar keluh kesah, tak hendak dengar kata prihatin keluar dari pemimpin. Republik ini perlu pemimpin yang hadir untuk menggelorakan percaya diri, bukan menularkan keprihatinan. Pemimpin tak boleh kirim ratapan, pemimpin harus kirim harapan.

Sebatas pidato dan wacana

Hari ini Indonesia memasuki era demokrasi etape ketiga. Kepresidenan periode kedua. Tidak pernah ada dalam sejarah republik ini seorang anak bangsa dipilih jadi pemimpin dengan suara sebanyak saat Presiden Yudhoyono di tahun 2009. Semua persyaratan untuk melakukan dan menuntaskan langkah-langkah besar ada di sana. Tapi mana langkah besar itu: infrastruktur ekonomi? Kepastian hukum? Integritas di sekolah? Tegas kepada pengemplang pajak? Pemangkasan benalu APBN? Konsistensi kebijakan? Reformasi birokrasi? Jaminan kebinekaan bangsa? Perlindungan warga bangsa?

Harapan yang tinggi untuk membereskan agenda penting baru sebatas pidato dan wacana. Republik perlu realitas. Pemerintah memang punya capaian, tetapi jika ada keberanian untuk menggelontorkan terobosan-terobosan besar di sektor penting, maka capaian itu akan melonjak. Kekecewaan tumbuh bukan semata karena pemerintah tak membawa hasil, melainkan karena terlalu banyak peluang terobosan dan perubahan yang disia-siakan. Sebutlah soal energi atau infrastruktur sistem logistik (jalan, pelabuhan, bandara, dan lain-lain), terobosan di sini bisa membuat ekonomi melejit. Atau terobosan besar dalam penegakan hukum. Perusak kebinekaan didiamkan, pengemplang pajak tak dijerat. Hukum tegak kokoh tanpa kompromi bagi rakyat kecil, tapi hukum loyo lunglai di depan rakyat besar.

Ini semua dampak absennya keberanian menerobos. Semua serba alakadarnya. Amunisi politik yang dahsyat itu tak digunakan. Republik ini butuh pemimpin yang mau turun ke lapangan, pemimpin kerja dan bukan pemimpin upacara. Rakyat tidak perlu pengumuman hasil rapat, tapi ingin lihat implementasinya.

Lihat sejarah kita, gamblang sekali. Republik ini didirikan oleh orang-orang yang berintegritas. Integritas itu membuat mereka jadi pemberani dan tak gentar hadapi apa pun. Bukan pencitraan, tapi integritas dan keseharian yang apa adanya membuat mereka memesona. Mereka jadi cerita teladan di seantero negeri.

Kini republik membutuhkan pemimpin yang berani tegakkan integritas, berani perangi ”jual-beli” kebijakan dan jabatan, pemimpin yang mau bertindak tegas melihat APBN untuk rakyat ”dijarah” oleh mereka yang punya akses. Ya, pemimpin yang bernyali menebas penyeleweng tanpa pandang posisi atau partai, dan bukan pemimpin yang serba mendiamkan seakan tidak pernah terjadi apa-apa.

Republik ini perlu pemimpin yang mendorong yang macet, membongkar yang buntu, dan memangkas berbenalu. Pemimpin yang tanggap memutuskan, cepat bertindak, dan tidak toleran pada keterlambatan. Pemimpin yang siap untuk ”lecet-lecet” melawan status quo yang merugikan rakyat, berani bertarung untuk melunasi tiap janjinya. Republik ini perlu pemimpin yang memesona bukan saja saat dilihat dari jauh, tetapi pemimpin yang justru lebih memesona dari dekat dan saat kerja bersama.

Bukan pemimpin yang selalu enggan memutuskan dan suka melimpahkan kesalahan. Bukan pemimpin yang diam saat rakyat didera, lembek saat republik dihardik negara tetangga, tapi lantang dan keras justru saat diri pribadi atau keluarganya tersentuh. Pemimpin yang tak gentar dikatakan mengintervensi karena mengintervensi adalah bagian dari tugas pemimpin dan pembiaran tidak boleh masuk dalam daftar tugas seorang pemimpin.

Jika Presiden Yudhoyono tidak segera mengubah cara menjalankan pemerintahan, maka saya harus mengingatkan bahwa bangsa Indonesia bisa memasuki persimpangan jalan yang berbahaya.

Jalan pertama adalah meneruskan kepemimpinan sampai di 2014 agar proses demokrasi berjalan normal tapi rakyat mencicipi hasil yang alakadarnya, deretan peluang kemajuan hilang tanpa bekas. Keterlambatan dan pembiaran jadi ciri beberapa tahun ke depan. Bahkan lunglainya penegakan hukum adalah resep mujarab menuju negara kacau.

Jalan kedua mulai menyeruak. Jalan berbahaya tapi suara ini mulai berkembang sebagai respons atas kelambatan dan pembiaran sistemik ini: berhenti di tengah jalan dan berikan kepada orang lain untuk memimpin. Suara macam ini bisa merusak pranata siklus demokrasi yang dibangun dengan sangat susah payah. Suara ini tumbuh karena keyakinan bahwa lewat jalan terjal ini bisa terjadi pembongkaran atas pembiaran dan kelambanan; agar rakyat tak dirugikan terus-menerus.

Tak optimal

Semua tahu sistem presidensial menjamin presiden bisa bekerja sebagai eksekutor pemerintahan dan melindunginya agar tak dapat diberhentikan oleh alasan politis. Hari ini yang dihadapi Indonesia situasi sebaliknya. Periode dijamin aman oleh konstitusi, tetapi presiden tak optimal jalankan otoritasnya. Keterlambatan berjejer dan pembiaran berderet. Periode fixed lima tahun itu bukan mengamankan agar kerja cepat, kini malah jadi penyandera bangsa dari gerak kemajuan cepat.

Memang presiden bukan dewa atau superman. Tidak pantas semua masalah ditumpahkan ke pundak pemimpin. Akan tetapi, presiden bisa menentukan suasana republik. Pemimpin adalah dirigen yang menghadirkan energi, nuansa, dan aurora di republik ini. Pemimpin bisa fokus menguraikan masalah strategis dan urgen bagi percepatan pelunasan janji-janjinya.

Presiden Yudhoyono harus sadar bahwa caranya menjalankan pemerintahan itu memiliki efek tular. Kelugasan, ketegasan, keberanian, kecepatan, keterbukaan, kewajaran, kemauan buat terobosan, dan perlindungan kepada anak buah bahkan kesederhanaan protokoler itu semua menular. Tapi kebimbangan, kehati-hatian berlebih, kelambatan, ketertutupan, formalitas kaku, pembiaran masalah, orientasi kepada citra dan ketaatan buta pada prosedur itu juga menular. Menular jauh lebih cepat dan sangat sistemik.

Rakyat republik ini sudah kerja keras. Lihat di segala penjuru Indonesia. Mulai dari kampung kumuh-sumuk tak jauh dari istana, di puncak-puncak pegunungan dingin, di tepian pantai sebentangankhatulistiwa: rakyat republik ini serba kerja keras. Mereka mau maju, mereka mau hadirkan kehidupan yang lebih baik bagi anak cucunya. Dan, yang pasti mereka tak biasa tanya siapa yang jadi pemimpin. Buat rakyat banyak tak terlalu penting ”siapa”-nya, yang penting lunasi semua janjinya.

Ini adalah sebuah peringatan apa adanya, semata-mata agar Indonesia tidak menemui persimpangan jalan itu. Ingat, rakyat negeri ini sudah bekerja keras dan ”berlari” cepat. Pengurus negara harus memilih mengimbangi kecepatan rakyat atau ditinggalkan rakyat.

Anies Baswedan Rektor Universitas Paramadina

3. From the book Overcoming corruption by Bertrand de Speville, 2010
he is a world class anti corruption expert. In this book, he mentioned 7 essentials in fighting corruption, that are Will, Law, Strategy, Coordinated action, Resources, Public support, and Endurance. Quite a list!
It’s really a must read book for anti corruption action.

2 thoughts on “Idea From Other Writings

  1. Assalamualaikum wr.wb.
    kak, sy juga mahasiswi fakultas ekonomi sm seperti kakak. skrg ini konsentrasi sy Ekonomi Islam. miris memang melihat praktik ekonomi di negeri ini, yg sama sekali tdk brpihak kpd org2 lemah, mrk smkn termarginalkan. sy dn teman2 yg semisi sgt semangat utk brdakwah ttg ekonomi islam di fakultas dan tmn2 yg blm paham. kami pengen ekonomi islam tegak dan membawa keadilan di Indonesia
    hanya saja, masalah kecil ini sering muncul dalam diri sy, semangat sy naik turun. ada kalanya melejit dan sanggup melakukan tugas apa saja-seberat apapun. namun, jika sdg futur, sy bisa loyo dan ngga peduli lg dgn apapun-termasuk amanah dn tugas sy😦. sy sadar kalo siklus sy ini manusiawi, tp sy ngga mau terus2an menolerir kemalasan sy ktka futur kak.
    kakak mgkn bs share apa yg kakak lakukan jika sedang futur jg..
    Danke!🙂

    • Nisa, thanks for the question.

      Yes, I agree with you, there are a lot things that we should improve in our country.

      Regarding menjaga semangat, as you said, this is manusiawi, but we can’t tolerate it. Three things that I can suggest you: friends/jama’ah, consistent, and refresh.

      Pertama, I really think that if you live in muslim majority country, such as Indonesia, life will be much easier. You can join sholat jama’ah which clearly can boost your motivation. You can also have weekly mentoring with your friends, which I found quite helpful in preserving our ghirah. Active in lembaga da’wah is clearly also a good solution.

      Kedua, consistent. In term of life management, as our prophet suggested, it’s better to have a consistent or scheduled daily time table. Misalnya tidur jam berapa, baca buku berapa jam, sholat tahajjud jam berapa, etc. Jika hidup kita teratur, insyaallah motovasi dan semangat kita akan terjaga.

      Lastly, refresh. Refreshing can be a good way to maintain ghiroh as well. Saya sering pergi ke taman, just walking around to see the beautiful scenery and other Allah’s creation. Ketika saya masih tinggal di Depok, dari kos-an ke kampus, biasanya akan selalu lewat banyak pengemis, anak-anak penjual koran, etc. Setiap saya melihat mereka, I can always find my spirit and inspiration. Hope you can also feel it.

      That’s all from me. Again, I’m also in the process of learning. Let’s always pray to Allah to guide us.

      Salam,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s