Karena Cinta

We live in this world because we love Allah SWT. He has the power over everything. He created us. He gave us sustenance. Ke mana lagi hati akan berlabuh jika bukan pada Allah? He’s our auliya, the one who always protect us.

This beautiful song from Maher Zain, may Allah swt protects him and his family, is a good description of how kind and loving Allah SWT has been for us. May our eyes remain open to see it.

What du’a is more beautiful than Prophet Yusuf a.s. du’a?

رَبِّ قَدۡ ءَاتَيۡتَنِى مِنَ ٱلۡمُلۡكِ وَعَلَّمۡتَنِى مِن تَأۡوِيلِ ٱلۡأَحَادِيثِ‌ۚ فَاطِرَ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ أَنتَ وَلِىِّۦ فِى ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأَخِرَةِ‌ۖ تَوَفَّنِى مُسۡلِمً۬ا وَأَلۡحِقۡنِى بِٱلصَّـٰلِحِينَ

“My Lord! You have indeed bestowed on me of the sovereignty, and taught me the interpretation of dreams; The (only) Creator of the heavens and the earth! You are my Wali (Protector, Helper, Supporter, Guardian, etc.) in this world and in the Hereafter, cause me to die as a Muslim (the one submitting to Your Will), and join me with the righteous.” (Q.S. Yusuf: 101)

Sudahkah kita berikan diri kita pada Allah SWT sebagaimana mestinya? I’m worry for the horrible time when my thoughts are far away, deluded away from worshiping Allah SWT. What a miserable state I would be in; yet I won’t realize it. May Allah SWT always gives his mercy and guides. No other option than to make it through.

Dari Dunia Menuju Akhirat (part 1)

Bismillahirrahmanirrahim. Tulisan ini bermula dari cukup seringnya saya diminta teman-teman mahasiswa maupun SMA untuk berbagi pengalaman. Tema yang paling sering diminta adalah bagaimana menjadi mahasiswa muslim beprestasi. Saya pikir prestasi tentu merupakan sesuatu yang relatif dan multidimensional. Secara sederhana, bagi sebagian mahasiswa, tentu prestasi disimbolkan dengan mendapat penghargaan Mahasiswa Berprestasi; namun prestasi tentu lebih dari ‘sekedar’ menjadi Mahasiswa Berprestasi. Ada prestasi dalam bidang akademik, sosial, kewirausahaan, seni budaya, olah raga, dan seterusnya. Lebih jauh lagi, prestasi tentu lebih luas dari sekedar prestasi di bidang akademik, sosial, dll tersebut. Sesuai ajaran Islam, kehidupan yang sebenarnya adalah kehidupan di akhirat kelak; sehingga tentu pertanyaan yang lebih tepat adalah bagaimana caranya agar kita tergolong pada yang berprestasi di akhirat kelak? Dari sinilah tulisan ini berawal, yaitu hakikat atas prestasi. Tulisan ini kemudian akan dilanjutkan dengan beberapa tips untuk menjadi Mahasiswa Berprestasi, ditutup dengan sedikit tekad, pemikiran, dan impian saya terkait peradaban islam abad ke-21.

 

A.  First thing first

Sebelum kita berbicara terkait mahasiswa berprestasi, tentu kita perlu berbicara tentang hal yang lebih utama dalam hidup. First thing first. Ia adalah tauhid atau kalimat la ilaha illallah. Tidak ada yang disembah selain Allah swt. Jika banyak mahasiswa yang ingin menjadi mahasiswa berprestasi karena mereka berpikir bahwa menjadi mahasiswa berprestasi merupakan suatu bentuk kesuksesan; mereka telah salah besar. Kesuksesan yang sebenarnya berada di akhirat nanti. Kuncinya adalah Tauhid. Ialah yang akan menentukan kebahagian kita di dunia dan akhirat. Tauhid merupakan hal yang terpenting dalam hidup kita yang singkat ini. Syaikh Murattib Al-Hajj mengingatkan, “and what is a man other than a comet which flashes brilliant light only then be reduced to ashes”.

Lalu apa itu kesuksesan? Bagaimana agar kita menjadi seorang yang sukses? Apakah ukurannya adalah banyaknya harta? Gelar? Atau sumber prestige lainnya? Tidak. Allah swt mengatakan dalam QS An-Nahl ayat 97, “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS An-Nahl:97).

Terlihat dalam ayat tersebut terlihat bahwa mengerjakan amal shaleh merupakan hal kunci dalam mendapatkan kehidupan yang baik dan kesuksesan; namun tidak hanya itu saja. Ada persyaratan yang mendasar, yaitu amal shaleh tersebut harus didasari oleh keimaman. Singkatnya, kita bisa mengatakan bahwa amal shaleh merupakan sesuatu yang necessary but not sufficient; ia harus dilandasi oleh keimanan.

Terkait dengan kata ‘amal shaleh’, kita sebagai orang Indonesia sangat sering mendengarnya dan menggunakannya. Inilah keterbatasan kita karena menyerap sebuah kata ke dalam bahasa kita sehingga kita tidak mengetahui makna asli kata tersebut. Kata ‘shaleh’ memiliki akar kata Shod-Lam-HA, yang berarti “to be right/good/honest/upright/sound righteous, suit, fit. Dari akar kata ini muncul: Aslaha – to set things aright, reform, do good. Saalihat: good works, fit and suiting deeds. Aslaha (vb. 4) to make whole sound, set things right, effect an agreement between, render fit. Islaah: uprightness, reconciliation, amendment, reformation. Muslihun: reformer, one who is upright, righteous, a person of integrity, peacemaker, suitable.” Dari definisi ini kita bisa mengetahui apa yang diharapkan dari seseorang yang melakukan amal shaleh, yaitu seseorang yang memperbaiki sesuatu sehingga menjadi benar kembali. Singkat kata, seseorang yang melakukan amal shaleh, adalah seorang reformer. Hakikat dari melakukan amal shaleh adalah melakukan reform. Saya teringat akan definisi seorang leader atau pemimpin. Kita sering mendengar sebutan pemimpin. Saya pribadi menjadi penasaran, apa yang sebenarnya dimaksud dengan seorang leader. Alhamdulillah atas bimbingan Allah, saya menemukan definisi leader pada sebuah artikel, yaitu seseorang yang memperbaiki sesuatu sehingga sesuatu tersebut kembali menjadi benar (i.e. someone who sets things right).Jadi bukanlah pemimpin, seseorang yang melihat sesuatu yang salah namun membiarkannya. Begitu pula, kita tak akan termasuk pada orang yang melakukan amal sholah jika membiarkan keburukan terus terjadi. Saya merasa takjub, ternyata, perintah melakukan amal shaleh yang Allah swt berikan dalam Al-Qur’an, pada hakikatnya merupakan perintah kepada kita untuk menjadi seorang pemimpin.

Selanjutnya, sebagaimana disampaikan di ayat di atas, untuk mendapatkan kehidupan yang baik, kita harus beramal shaleh dan dilandasi dengan keimanan. Tentu pertanyaannya, bagaimanakah ciri orang yang beriman? Apa yang perlu kita lakukan untuk menjadi seorang yang berimana? Allah swt yang Maha Agung memberi penjelasan yang sangat rinci dalam Al-Qur’an terkait hal ini. Misalnya sebagaimana yang terdapat di dalam QS Al-Mu’minun 1-11.

Subhanallah, dengan sangat jelas ayat-ayat tersebut menjelaskan kriteria seorang mu’min, derajat yang ingin kita raih. Untuk menjadi seorang yang beriman, kita mesti menjadi seseorang yang (1) sholatnya khusyuk; (2) menghindari hal-hal yang tidak berguna (lagwu); (3) membayar zakat; (4) menjaga kesucian private parts; (5) menunaikan amanah; dan (6) menjaga sholat. Tentu untuk dapat memenuhi kriteria yang agung ini, kita perlu memahami lebih lanjut key words pada kriteria tersebut.

Pertama adalah seseorang yang sholatnya khusyuk. Kata khusyuk memiliki akar kata Kha-Syin-‘Ain yang berarti “Lowly/humble/submissive, still and low, to lower the eyes or voice, sink/nearly disappear in a setting place, be eclipsed/go away, become lean, whither/dry up, feign lowliness/humility in demeanour or voice or eyes, eject a thing, bow or bend down the head and body, be fearful”. Dari deksripsi tersebut tentu kita dapat memahami bahwa sholat yang khusyuk itu ditandai dari hati yang humble and menyerahkan diri pada Allah swt. Saya pernah mendengar nasehat ulama bahwa seseorang yang dapat khusyuk dalam sholat hanyalah orang yang khusyuk di luar sholat. Artinya kita perlu menjaga perasaaan dan kondisi khusyuk tersebut sepanjang waktu. Jadi pengkondisian hati dan pikiran untuk sholat yang khusyuk perlu dilakukan sepanjang waktu.

Kedua adalah menhindari hal yang bersifat laghwu. Kata laghwu memiliki akar kata Lam-Ghoin-Waw, yang artinya “To talk nonsense speech, to make mistake consciously or unconsciously, use vain words, idle talk, make noise and raise a hue and cry (to interrupt), talk frivously (to drown the hearing of another), a slip in talk, unintentional talk, babble”. Dari definisi tersebut tentu kita dapat membayangkan tipe perbincangan atau aktivitas seperti apa yang tergolong kepada laghwu. Bagi saya pribadi, pikiran saya langsung melayang pada ‘kongkow-kongkow’ anak muda maupun dewasa yang berbicara panjang lebar disertai gelak tawa yang pada akhirnya tidak menghasilkan kesimpulan apa-apa. Sangat menyedihkan, ternyata perbuatan yang dilarang tersebut merupakan yang hal dianggap baik pada saat ini. Mereka bahkan digelari sebagai seorang yang gaul, atau si anak nongkrong. Di sini peran kita unutk mengingatkan rekna-rekan kita. Lanjut kembali, jika kita perhatikan, poin pertama di atas dan poin kedua ini sangat berkaitan. Orang yang menjaga kekhusyukannya tentu bukanlah orang yang mengerjakan hal-hal laghwu. Sebaliknya, orang yang sering atau terbiasa mengerjakan hal yang bersifat laghwu adalah mereka yang sholatnya tidak khusyuk, which means mereka bukanlah orang yang beriman. Na’udzubillahi min dzalik. May Allah swt protect us from that state. Lalu bagaimana kita menyikapi tawaran perbuatan atau kegiatan yang bersifat laghwu tersebut? Pada ayat tersebut Allah swt mengatakan yang harus kita lakukan adalah a’rada, yang berarti ”To turn away, back, slide; or having an excuse”.

Ketiga adalah mengerjakan zakat. Saya melihat betapa indah Islam pada ayat ini. Ternyata menjadi seseorang yang beriman itu tidak hanya mensucikan hati dan perbuatan saja; namun juga mensucikan harta. Jika kita semua paham tentang inti zakat ini, tentu tidak ada koruptor di negeri ini. Semua orang sadar dan ingin agar harta mereka suci dari mengambil hak-hak orang lain. Selain itu, ayat ini mengajarkan kita bahwa seorang mu’min yang diinginkan Allah itu adalah juga orang yang peduli terhadap kondisi sosialnya; bukan orang yang menutup mata. Indah sekali. Semoga kita bisa termasuk pada orang yang sentiasa membantu kondisi perekonomian orang-orang yang disekitar kita.

Keempat adalah menjaga private parts. Untuk kata ‘menjaga’ di sini Allah swt menggunakan kata hafiz yang akar katanya HA-Fa-Zha yang berarti “To preserve/guard/protect a thing, take care of a thing, prevent a thing from perishing, to be careful/mindful/regardful/attentive/considerate concerning a thing, to keep a thing,…, to remember, to defend, keep a thing from getting lost, to be observant or watchful, apply oneself/assiduously/constantly/preservingly, vigilant or heedful, to anger a preson or be anger”. Deskrispsi kata di atas sangat jelas menekankan bahwa seorang yang beriman senantiasa menjaga kesucian private parts mereka. Dua ayat selanjutnya menjelaskan apa solusi yang diberikan oleh Allah swt.

Kelima, menunaikan amanat dan janji mereka. Amanat sendiri memiliki akar kata yang sama dengan iman itu sendiri. Dalam konteks ini amanat adalah sesuatu yang dipercayakan. Kemudian janji (‘ahdun) yang berarti perjanjian, janji, kesepakatan, sumpah, ikatan, tanggung jawab, jaminan, persahabatan, dan keamanan. Indah sekali. Seseorang yang mu’min adalah orang yang menunaikan apa yang dipercayakan kepadanya (dari orang lain kepada dirinya) dan orang yang sentiasa memenuhi janji atau apa yang telah diucapkannya (dari dirinya kepada orang lain).

Keenam, menjaga sholatnya pada waktu yang telah ditentukan.

Saya berpikir bahwa semua karakteristik mu’min di atas merupakan sesuatu yang bersifat saling menguatkan. Pemenuhan atas satu hal akan berujung pada pemenuhan hal yang lainnya. Sebaliknya, meninggalkan salah satunya akan berujung pada rusaknya semua hal lainnya. Sunnguh, tidak ada setengah-setengah dalam agama ini. Dari urutan ayat ini, kita belajar dari Allah swt yang Maha Suci bahwa sholat khusyuk merupakan prioritas utama yang akan membantu kita menjalankan persyatan yang lainnya.

Kita tentu tidak punya pilihan lain. Kita harus menjadi seorang yang mu’min. Seorang yang mu’min kelak akan menjadi pewaris atau pemilik Surga Firdaus. Ya Rabb, kuatkan lah kami agar kami menjadi hamba-Mu yang mu’min. Kuatkanlah kami agar tidak tertipu oleh dunia ini. Kuatkanlah kami agar kami memiliki sholat yang khusyuk kepada Mu.

This worldly life summarized in five words

Like many other people, I very often ask myself, what is this life really about? Why are we here? How to be a successful one? And so on. In looking for this answer, I am very grateful that I am in touch with Al-Qur’an, the only book which consists of literal word of God possessed by human being nowadays. In surah (chapter) Al-Hadid ayah (verse) 20, Allah swt summarized this worldly life in five words. The verse read:

“Know that the life of this world is but amusement and diversion and adornment and boasting to one another and competition in increase of wealth and children..”

I’ve read this verse many many times before, but I didn’t really catch the meaning and get the sense of it. Only now, thanks to a good Android app called Qamus alAthar, I can get the meaning of five Arabic words that Allah used in that verse. Arabic is such a beautiful, detail, comprehensive, and deep in meaning language; no wonder why Allah swt chose it as the language of the final revelation. In my experience, merely relying on the ‘common’ translation that we read in our Qur’an will result in lost in meaning as well as lack of understanding. In Qur’an, Allah swt repeatedly asked us to think deeply, over and over again on the ayah of the Qur’an. Only through this exercise we will realize how powerful the Qur’an’s message is. Without further ado, here are the words.

First is la’ibun. The root letter for this word is la-‘a-ba; which means: “played/sported/gamed/jested/joked, pastime (in an unserious thing), engage in idle sport without meaning of purpose, slaver/drivel, stupid/fool.” Looking at this meaning, I internalize the word la’ibun as engaging in something that is not meaningful or purposeful. By internalizing it like this, I personally can see the connection between this word and the reality of life that I observe. In academic world, for example, I’ve seen many people engage in research, which can take almost his entire career, in something that is not meaningful or have no meaning. In Economics for example, we usually try to model human behavior in a very complex mathematical model. Many people have spent most of their career in this field; but then suddenly, when the financial crisis come, unfortunately, these people came to an obvious conclusion, that we can’t model human behavior as a mathematical equation. The reason? Simple. Because we’re human; we’re not an apple who will subject to gravity force when it falls from the tree. Sorry for making it too Economics; but many Economists, they spent most of their life working on this mathematical model which then result in the state of Economics field whereby a good economist is not someone who can provide the most wisdom; rather, it’s the one who can produce the most sophisticated mathematical modelling regardless its relevance to the real world. Again, the point is engaging in something that is not meaningful or purposeful. I believe this phenomenon could be found in other branches of science or other life setting.

Second is lahwun. The root letter for this word is la-ha-wa; which means: “Become diverted from it as to forget it, to preoccupy, beguile, distract, sport/play/amusement, divert, diversion, forget, delight/cheer, turn away, what is thrown, unmindful/careless.” My personal take on this word is that this worldly life is something that will distract, divert, and preoccupy us from worshipping Allah. This is entirely true. We are a living witness of how we and many people are heavily occupied with our daily activities and ambition that we forget our obligation to Allah. Even many Muslim do not observe the five daily prayers, which is basically the minimum standard that we should abide to.

Third is zinatun. The root letter for this word is za-ya-na; which means: “To adorn, deck. Adorn, grace, honor. Adorned, ornamented, decorated, decked, beautified. A grace, a beauty, a comely quality, a physical/intellectual adornment, an honor or a credit, and anything that is the pride or glory of a person or a thing. It [states] are three kinds: Mental: such as knowledge/science and good tenants. Bodily: strength, tallness of stature, beauty of aspect. Extrinsic: wealth, rank or station, dignity.” As we can see, this is a very rich word; and amazingly, it describe vividly the life that we are seeing in our environment. We clearly witness how people around us, or even ourselves, are obsessed with adornment or beauty. The cosmetic, fashion, fitness, etc. are a massive industry. Many people are so obsessed with how they look that they even risk their life for plastic surgery, pay USD 500 just for a branded slipper, and so on. Alhamdulillah that Allah guides us that this is not the right way to go. Again, I should mention a caveat here. This does not mean that Islam wants us to look ugly, dirty, and smell. No. Allah mentioned that what we have in this world, such as pearl, gold, silk, fur, etc. are bounty from Allah. Islam teaches us to look good, smell well, clean, etc.; but what Islam strongly forbid us is to be excessive in doing this. I saw a (branded) slipper priced at USD 500 in Singapore Takashimaya mall. Without a doubt, this brand-worshipper behavior is what we shouldn’t be trapped in.

Fourth is tafaakhurun. The root letter is fa-kha-ra; which means: “Self-glorification/magnification, boast, to disdain/scorn, proud/haughty, long/tall/great, excellent quality, baked pottery/clay, earthen vessel.” This is again very commonly found in our life, isn’t it? A good example for this can be found in Qur’an surah Al-Kahfi ayah 32 to 43. Please take a look.

Fifth is takaatsurun. The root letter is ka-tsa-ra; which means: “To surpass in number in quantity, increase, multiply, happen often, copious, richness; to be much, many, numerous, a man whose ancestors are many or whose good deeds are many. A man possessing much good, river in paradise from which other rivers flow, talkative person.” As we can see, this word does not necessarily imply a negative thing, but what make it negative is what follows in the ayah, i.e. takaatsurun fil amwali wal aulaad; which means surpassing each other in terms of wealth and children. Again, this is very true and easy to spot in our life. Regardless whether it is a President or a gardener, human tends to surpass each other in terms of the quantity of their wealth as well as the (quantity and) quality of their children.

We should be really grateful to Allah swt for showing us things that we should be mindful of in this life. Allah swt then continue the ayah with an even more amazing lesson. Take a look to the continuation of the ayah below.

“…like the example of a rain whose [resulting] plant growth pleases the tillers; then it dries and you see it turned yellow; then it becomes [scattered] debris.”

flower-377744_640Allah swt then beautifully give parable for this worldly life. Allah said this worldly life is like a plant which grows due to rain; but then the plant won’t stay beautiful and strong forever. Slowly but surely, unstoppable, the plant will someday turn yellow; and what remains? It just scatters as debris. Subhanallah. This is a very deep lesson for us. No matter how beautiful we are, no matter how smart, strong, wealthy, etc., at some point in time, we’ll just like a plant, we’ll get old and dies. But, unlike plant, our life does not stop here; in fact, the real life has just begun. Prophet Muhammad saw once said, when a human is brought to his grave, three things follow him; but two will go back and one remains. The three things are his family, his property, and his deeds. Family and property will go back, while his deeds will remain with him. This is should be a very strong reminder for us to increase our good deeds before it’s too late.

Allah swt conclude the ayah with the following.

“And in the Hereafter is severe punishment and forgiveness from Allah and approval. And what is the worldly life except the enjoyment of delusion.”

That’s basically conclude this deep and powerful ayah. This life is nothing but a delusionary enjoyment. It may seems enjoyable, but it’s just a delusion. What is true or real is the life in the hereafter. It will be a constant punishment for the disbeliever and an eternal mercy for the believers. May we are among those winners.

Finally, this verse gives many insight to us. To be a successful person in this life and in the hereafter, we better watch out not to fall into the trap of this five words. In doing so, I think we must not:

  1. Engage in un-meaningful and un-purposeful activities. Let’s always ask ourselves before doing something; is this activity really meaningful and purposeful? If so, what’s the purpose?
  2. Being preoccupied with something such that we are diverted or distracted from worshipping Allah swt. This obviously does not mean we can’t do our work, have a career, and then be in Masjid for the whole day. No, it’s quite the contrary, actually. Islam ask us to spread in the earth, looking for Allah’s bounty; but, there is a key principle here, that is we do it only for Allah’s sake and we are continuously aware of Allah’s presence.
  3. Being obsessed to be adorned, either mentally, physically, and extrinsically.
  4. Being boastful.
  5. Surpassing with each other in terms of wealth and children. There is nothing wrong with being wealthy and have a lot of smart children; again, what is highlighted here is being obsessed with and preoccupied to achieve whether we are in the list of 100 richest people in community.

To conclude, I hope from this moment on, whenever we see a blossoming flower, we would be reminded that this world is just like this flower; like it or not, it will come to an end; and the real life will then begin. Wallau’alam bisshawab.

bunga-mekar

The Secret Recipe: Al-Qur’an

Alhamdulillahirabbil’alamin, all thanks to Allah who has instilled guidance in our heart. In this moment I would like to assert one ni’mah (blessing) that Allah has given to our life. What is it? It is the Al Qur’anul Kariim. Here are some description of Qur’an by Allah. I really hope, after reading this description we would be more eager to interact with, memorize, understand, and practice Al-Qur’an.

  • Al-Qur’an is the book in which there’s no doubt in it; it is the guidance for those who fear Allah. Allah said, “This is the Book about which there is no doubt, a guidance for those conscious of Allah.” (QS 2:2).
  • Al-Qur’an is the book which assert the previous books; as the guidance as well as delivering good news to the believers. Allah said, “by permission of Allah , confirming that which was before it and as guidance and good tidings for the believers.” (QS 2:97).
  • Al-Qur’an is the law by which we decide our affairs. Allah said, “Indeed,  We  have  revealed  to  you,  [O  Muhammad],  the  Book  in  truth  so  you  may  judge between  the  people  by  that  which Allah has  shown  you.  And  do  not  be  for  the  deceitful an  advocate.” (QS 4:105).
  • Al-Qur’an is a clear light which shows the right path. Allah said, “O  mankind,  there  has  come  to  you  a  conclusive  proof  from  your  Lord,  and  We  have sent  down  to  you  a  clear  light.” (QS 4:174).
  • Al-Qur’an is the lesson; healing for what inside our heart; guidance and rahmat for the believers. Allah said, “O  mankind,  there  has  to  come  to  you  instruction  from  your  Lord  and  healing  for  what is  in  the  breasts  and  guidance  and  mercy  for  the  believers.” (QS 10:57).

These are several description from Allah swt on Al-Qur’an. As long as we try to be closer to Allah with Qur’an and sincerely look for guidance, insyaallah, insyaallah Allah will give us the guidance.

Mengapa masih ada orientasi dunia dalam diri kita

Saya hanya ingin mengingatkan diri saya.

Terlalu sering pikiran dan hati kita dipenuhi oleh ambisi duniawi. Terlalu sering ibadah kita, tindakan kita, mencampurkan keikhlasan dengan riya. Terlalu banyak amal ibadah kita yang tidak murni keikhlasannya.

Mengapa kita manusia mau saja tertipu dengan kehidupan dan ketidakikhlasan ini. Sangat jelas bahwa kita akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah nanti. Mengapa kita terlalu sering lalai, lupa dengan tujuan kita diciptakan. Mengapa kita terlalu berambisi duniawi, dan menganggap remeh kehidupan akhirat.

Sungguh tidak pantas kita merasa tenang, merasa bahwa kita pasti akan terlepas dari azab Allah. Sunnguh tidak pantas, bila kita menganggap remeh siksa Allah. Belum tentu semua kemudahan yang kita dapatkan akan membuat kita semakin dekat dengan Allah. Boleh jadi ia malah menjauhkan kita.

Beruntunglah orang-orang yang beriman, beramal shaleh, dan memurnikan ketaatannya pada Allah saja. Orang yang tidak peduli dengan pandangan manusia, karena memang sudah sepantasnya hanya pandangan Allah lah yang berarti. Beruntung dan menanglah orang-orang tersebut; semoga kelak kita termasuk pada golongan orang-orang yang beruntung dan menang tersebut.

Sangat indah petikan do’a yang diajarkan Allah pada ayat-ayat akhir QS Al-Imran: “ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang dzalim seorang penolongpun. ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman (yaitu), ‘Berimanlah kamu kepada Tuhanmu’, maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahn kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti. Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.”

Ya Rahman, tunjuki dan sayangilah kami. Ya Rahman, bantulah kami untuk selalu ikhlas kepada Mu. Ya Rahman,,

Economics and its discontent

Just recently listened to a lecture by one of my favorite economist, Professor Jefferey Sachs, on economics and theology. There are  couples of interesting reflections that he delivered.

First, the issue nowadays is between morale and material pursuits. Not long ago, he said, economics study was taught under the moral or philosophy subject. Yet, since the 19th century, I guess since the start of industrial revolution, the moral side has been abandoned. As the result, many of our problem nowadays is not on economics  issue (such as optimization), rather, it’s a morale question. He took an example of the difficulty of a senior health organization officials in securing financial support from the white  house for a global health project. The fund raising has been very very difficult even though the amount is only 1% of 1% of US economy, or equivalent to what Pentagon spend everyday.

Second, he cited Easterlin paradox, that is a paradox between happiness and material well-being. Professor Easterlin found that even though the wealth of american since 1950 to 1980 has increased, their (reported) happiness has remained unchanged. Thus this puts deep question on the material pursuit that we’re on.

Lastly, he cited how the material pursuit of human being has destroyed the nature at unprecedented level; and this destruction has brought considerable change to our lives, yet people aren’t care about it.

As an economist wanna be, I think this reflection should be well-noted. Professor Sach has the credibility to make such reflection, as he is one the greatest economists at the moment. It is somehow sad for Professor Sach and the people alike to finally come to this sort of conclusion, something that Muslim has taken it for granted. As a muslim, we has been taught that life in this world shouldn’t be based on material pursuit. We’ve been taught that we have to protect and sustain the nature, rather than to destroy it. We have been taught to spend zakat, charity, waqaf and other forms of givings to reduce poverty and inequality. But I guess it’s easier to say rather than practiced. We know that material pursuit, destruction on nature, inequality among people are bad things. Yet, we’re still on the blind eye to pursue it. I believe this is the test that Allah specifically designed for us who live in 21st century, when the temptation to worldly life is just irresistible.

This, I believe, should be reflected in Indonesia’s economy. We’re currently maybe in the most booming period of our country economy. I believe we should stop and ask, is this really what we want? Is destroying nature, exposing our lives to endless material pursuit, and widening inequality the one that we really want?

Prof Sach ended his speech by stressing that economics is (and should) not (be) a pure science. It should be combined with morale philosophy again. I wish he will get hidayah soon and understand that the true morale guidance can only be found in Islam, the final cut of Ibrahamic religion. May we’re not included in those who know the truth but do nothing to follow it.

You can watch the complete lecture here (it starts on around minute 45).

It’s just never enough to thank Allah

Alhamdulillah, all praises and thanks to Allah, the lord of the world; the one who has created us and this entire life. How I really feel that thanking Allah will just never enough; too many ni’mat that Allah has given to us. May we always be someone who always remember the ni’mat from Allah and are able to maximize it. May we also be someone who feel very dependent on Allah; yet at the same time understand that we have to work hard in all aspects in this life. May Allah always guide us in this life, to be someone who has big ‘amal (ahsanu ‘amala).

Best wishes for your activities!

Al asmaul husna

Rasa cinta terkadang tumbuh dari ketertarikan kita pada sifat. Seringkali, cinta yang didasarkan pada sifat ini jauh lebih kuat dari cinta yang didasarkan pada fisik, harta, dan beberapa hal lainnya. Kita cinta misalnya pada A, kenapa? Mungkin karena kita menyukai sifatnya yang lembut, sifatnya yang cerdas, dan sifat lainnya.

Di zaman kenabian dahulu, Nabi Muhammad SAW pun menganjurkan kita untuk menyatakan kecintaan kita pada sahabat kita. Mungkin kita mencintainya karena ibadahnya yang baik. Kita mencintainya karena sifat penyayangnya pada sesama dan sifat-sifat lainnya. Rasulullah SAW pun menganjurkan, katakan padanya, uhibbukum fillah, aku mencintaimu karena Allah.

In my humble opinion, begitu juga halnya dengan kecintaan kita pada Allah SWT. Jika kita ingin meningkatkan rasa cinta pada Allah, ingin memperbaharui rasa cinta kita pada Allah, maka perhatikanlah sifat-sifat Allah, nama-nama Allah, al asmaul husna yang berjumlah 99. Sangatlah baik jika kita dapat merenungi sifat-sifat Allah SWT tersebut dan mencoba untuk mempraktekkannya.

Setelah kita renungkan dan rasakan sifat-sifat Allah SAW tersebut, kita mungkin akan merasakan bahwa mempraktekkan beberapa sifat dari al asmaul husna itu mungkin tidak terlalu berat, namun mempraktekkan semua atau ke-99 sifat-sifat Allah tersebut tentunya sangatlah challenging. Karenanya, kitapun akan mengerti, betapa kita sangat kagum pada kesempurnaan Allah SWT yang memiliki 99 sifat tersebut.

Semoga Allah SWT selalu membimbing kita, menguatkan keimanan kita, dan memperdalam rasa cinta kita pada-Nya. Wassalamualaikum,,

So happy with QS Muhammad

I have a quite special feeling with Qur’an, surat Muhammad. I am so happy to read it, and again, so happy to read it. Just wanna put several verses that I like.

[1] Those who disbelieve and avert [people] from the way of Allah – He will waste their deeds. [2] And those who believe and do righteous deeds and believe in what has been sent down upon Muhammad – and it is the truth from their Lord – He will remove from them their misdeeds and amend their condition. [3] That is because those who disbelieve follow falsehood, and those who believe follow the truth from their Lord. Thus does Allah present to the people their comparisons.

[10] Have they not traveled through the land and seen how was the end of those before them? Allah destroyed [everything] over them, and for the disbelievers is something comparable.

Somehow I think the verse number [10] above is an encouragement from Allah to us to travel and to see the impact that we’ll get if we disobey Allah. There are many civilizations ended up destroyed because of their disobedient to Allah.

[11] That is because Allah is the protector of those who have believed and because the disbelievers have no protector.

Here Allah stressed that He is our protector. When I read this verse, I feel so safe and peaceful.

Here are some other verses that interest me:

[19] So know, [O Muhammad], that there is no deity except Allah and ask forgiveness for your sin and for the believing men and believing women. And Allah knows of your movement and your resting place.

[24] Then do they not reflect upon the Qur’an, or are there locks upon [their] hearts?

[29] Or do those in whose hearts is disease think that Allah would never expose their [feelings of] hatred?

[30] And if We willed, We could show them to you, and you would know them by their mark; but you will surely know them by the tone of [their] speech. And Allah knows your deeds.

[31] And We will surely test you until We make evident those who strive among you [for the cause of Allah ] and the patient, and We will test your affairs.

[35] So do not weaken and call for peace while you are superior; and Allah is with you and will never deprive you of [the reward of] your deeds.

[36] [This] worldly life is only amusement and diversion. And if you believe and fear Allah , He will give you your rewards and not ask you for your properties.

Hopefully we’ll always be close to Allah and can read and memorize His Qur’an,,

22nd

Around ten days ago, I finally turned 22 years old. Sounds like very old. Sometimes, it freaks me =). I would like to thanks Allah, as always, for everything that He has given to me.

I’m just fully recovered from three days-unusual sick that I’ve never experienced before. I just realized that, after that three days, I feel that I am  closer to Allah, I more understand how dependent I am to Allah. How Allah is everything in my life. Thank you Allah.

Last year, a lot of amazing things happened. Started with my role as advisor to FSI FEUI, which made more involved heavily in da’wah in FEUI. Then more things happened: won several essay competitions, mapres fe, mapres ui, accepted in LKYSPP with full scholarship, MTQ mahasiswa in Makassar, mapresnas, and of course graduation. Too many reasons to be grateful to Allah.

As what I did a year ago when I turned 21, I promised my self that I have to continue to work hard, improve my self, and continue contributing greatly to people around me and to Indonesia at large. I hope this year I can represent Indonesia in International forum, awarded as one of world future leader, and advising Indonesia’s government. I will also really try to finish memorizing qur’an this year.

The spirit that I have maintained, that is to be someone greatly beneficial to others, amazingly, have kept me on so far. Again, all thanks to Allah.

Lastly, for all of things that I’ve achieved so far, I would like to give tribute to mom, the extraordinary woman. The one who always pray for me. My mom, is everything for me. Mom, hope Allah will place us together and all of our family in His jannah later. I love you more than myself.

You Rise Me Up

To my parent, family, ustadz, teachers, best friends, and friends,, thank you for everything. You made me to the stage where I am today. Hope Allah always gives us strength, to be and to do a good thing. Hope Allah gathers us all in His jannah later.

Thank you all,,

Woman In Islam

I just watched a very interesting documentary entitled Miss Representation. The documentary is about the perception on woman in society. In society, mostly woman are seen just based on their “body”, not on their “brain”. In the documentary it is said that around 78% of woman are unsatisfied with their body when they are 17 and the number of girls and woman who are stress has been doubled from 2000 to 2010.

The more horrifying fact is that this media (film, magazine, advertisement) are really affect girl in their growth age when they are seeking for identity. It is unquestionable why the number of woman who want to be a president or other top officials is decreasing when they are get older. They are just shown that those positions are not their destiny or in another words they are just incapable of.

I think It proved how actually Islam-who is always accused of humiliating woman right- has help woman. Islam teach that the body of woman is not for ‘public consumption’. Islam teach woman to cover their body so that they will be protected from irresponsible men or from people concern about their body look. Islam also teach woman how to behave, for example by being straight in talking, do not use sexually attractive voice, etc. to their ‘non mahram’.

There is no solution for the current problem in our society other than woman have to dress and behave properly. There is no way we can change men perception on woman as ‘sexual fulfilling doll’ if the woman do not stop to dress sexy or to be perceived sexy. We can’t deny that actually woman it self is the one who make they are un-respected. the way they dress, they way they walk or behave is most of the time in order they are looked or perceived attractive by man.

If all woman cover their body and behave properly, then automatically there will no sexy woman picture in media, then of course, the image that woman is ‘sexual fulfilling doll’ will disappear by itself.

Our Role for the Earth

In qur’an, there is a story when Allah was about creating human as the khalifah or leader in the earth. Allah said to the angel, “Verily, I am going to place (mankind) generations after generations on earth.”  then the angel said, “Will You place therein those who will make mischief therein and shed blood, – while we glorify You with praises and thanks and sanctify You. Then Allâh said: “I know that which you do not know.”

I found this ayat (verse) as a very interesting verse. Angels already know what we’re going to do in the earth, that we will make mischief in this beautiful earth. And yes, it’s true, we polluted the water, air, and land, killed the endangered animal, cut down trees, and many other bad things.

I believed Allah definitely also already know about it. But the fact that Allah said “I know that which you do not know.”, give impresion to me that Allah trust us, as human being, to do a good thing in this earth.

I am so grateful to have a grandfather who taught me about philosophy of nature. With his kindness, he taught me about how we, as human being, have to nurture this earth, create balance in this world, do a good thing to all human being and all of Allah’s creation. He taught me to be nice to everyone, animals, plants, and everything.

With all of the technological advancement, we, human being, successfully ‘create’ a good species of plant, like a sweet mango, more rice in paddy, etc. I believe that this is a good thing and we have to keep doing it. But the fact that we polluting and destroying everything on the land, sea, and sky, we’ve got to stop it.

Yes, life is balance, require balance, and ‘ve got to be balanced. Let’s try to execute Allah’s trust to us, to govern this earth well.

3 Lessons

There are three main lesson that I got in several last days.

first, the important of hard work, pray, and tawakkal.

One measure of our maturity is our patience on our own wants. Most of the time, we pray to Allah to give us this and that. After we work hard to achieve it, just give it all to Allah. He will determine the result. However, sometimes, or maybe many times, we are inpatient to know the result or when we know the result.

Let’s believe, that insyaallah, when we didn’t get what we want, Allah is preparing a better thing for us. Allah said, when we pray, there are three possibilities. First, Allah will give what we want directly; second, Allah will postpone it for some reasons, and will give it to us later; or third, Allah think that’s not good for us and he give us reward for already pray to him. Here, we can see that there is no loss for us to pray to Allah. To conclude, let us always work hard, pray, and then just give the rest to Allah, he will determine the best for us.

Second, The past is the past. We can do nothing about it. Don;t be bother with what had happened in the past. Allah give us another opportunity. Take the lessons. It’s all about our choice, what we wanna do and what we wanna be right now. Let’s be someone who focus and optimist.

Lastly, about our own ability.

We’ve got to move forward, create value  added and strive for the society’s prosperity. A lot of people put their hope on our shoulders. We are the selected one. Not many people have or talent and ability. Let’s keep do the best, keep be the best, and make them happy. Make those unfortuned people have smile and hope on their eyes. It’s our task, our main task.

Insyaallah, Allah will always be with You

When you made a mistake, trust me, it’s fairly OK. Everyone made a mistake. Just promise that you’ll never do it again. And the most important thing, now you have to run faster to catch up. Gonna be hard. But it’s possible.

Why did you bury yourself in the sadness, while there are hopes in this life? Only to Allah you will back. He is the one who know you. He is the only one. He knows what your heart meant. You are lucky, even very lucky to be in this religion, maximize it. Insyaallah, Allah will always by your side.

Just Another Reflection

August 12th, on Lion Air flight to Jakarta from Singapore

First, Alhamdulillah, we got some good and professional government official. It has to be strengthened.

Second, there are around 31 million Indonesian live under USD 1.5 a day. All of parents in that 31 mio people always hope and dream that their children and edscents could live a better life. One key thing to achieve that, if not the one and only, is education. That’s why our main job is to provide a good quality but at the same time accessible to most of Indonesian. Several potential saving available is that through:

1) Making sure that government procurement, at leaat in ministrry of education, are as efficient as possible. There many cases, reports, and facts shown many leak in this procurement. Could we imagine if the corrupted money is used to build more school or library?

2) The ‘stay in luxurious hotel” tradition of government official has to be erased. If we can’t deliver this country’s promises to most of its citizen, that is to lift up their living standard, then why we (government official) live extravagantly?

One key thing that I always aspire in this country is that if only we have a good library. I’m so keen to see how Indonesia’s libraries are more crowded that shopping mall as it is today. Then, we’ve got to start to build an amazing library, put more books, provide internet access, etc. I believe, reading, or education in broad sense, is the key to get out from poverty.

Last point that I want to address quickly is how we need a more affordable and widely available higher education. We, of course, never intend to let our country become a resource based economy country, instead of knowledge based, that’s why, again, education should be a higher priority.

Jihad Seorang Mahasiswa

Kata jihad berasal dari bahasa arab, jahada-yuhajidu-jihadan yang berarti sungguh-sungguh. Jihad bisa diartikan sebagaimana definisi jihad yang kita pahami saat ini, yaitu perperangan, maupun memang sesuai dengan arti katanya, yaitu bersungguh-sungguh dalam bekerja. Tanpa mengurangi respek terhadap makna perperangan dalam jihad, dalam tulisan ini penulis akan lebih menekankan tentang jihad dalam arti kesungguh-gungguhan, terutama dalam konteks sebagai seorang mahasiswa.

Umat islam, sebagaimana yang difirmankan Allah dalam QS Al Imran ayat 110, merupakan umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia. Hal ini berarti umat islam harus melakukan sesuatu dengan kualitas terbaik dan menjadi yang terbaik. Aplikasi dari ayat ini bisa kita lihat dalam berbagai catatan sejarah tentang torehan prestasi umat islam pada masa kekhalifahan dahulu. Pada zaman kekhalifahan rasyidin, umayyah, abbassiyah, maupun sesudahnya, Islam memiliki peradaban terunggul di dunia dalam hal ekonomi, militer, arsitektur, perkapalan, astronomi, dan lainnya.

Namun, predikat sebagai umat terbaik itu, tidak terlalu lekat dengan umat islam saat ini. Kita bisa melihat bahwa sebagian besar negara yang berpenduduk mayoritas muslim berada pada kondisi negara yang tidak maju (developing countries). Indonesia sebagai negara muslim terbesar bisa kita ambil sebagai contoh. Sampai saat ini, jumlah penduduk miskin Indonesia adalah sekitar 13,33% dari jumlah penduduk, atau dengan kata lain, 31 juta penduduk Indonesia hidup dengan pendapatan di bawah 1,5 USD perhari (Bappenas: 2010). Korupsi pun masih sangat besar di lembaga pemerintahan. Berdasarkan audit yang dilakukan BPK RI semester II tahun 2010 lalu, ditemukan ketidakpatuhan penggunaan anggaran oleh pemerintah yang mengakibatkan kerugian, potensi kerugian, dan kekurangan penerimaan negara sebanyak 3.760 kasus senilai Rp3,87 Triliun (BPK RI: 2011).

Mahasiswa atau pemuda merupakan aktor yang diharapkan dapat merubah hal tersebut. Pemuda memiliki semangat yang kuat serta pikiran yang jernih. Oleh karena itulah, mahasiswa harus bersungguh atau dengan kata lain berjihad menuntut ilmu untuk mempersiapkan dirinya. Rasulullah Muhammad SAW, mengatakan bahwa orang yang keluar dari rumahnya untuk menuntut ilmu, maka ia berada di jalan Allah (fi sabilillah) hingga ia kembali ke rumahnya.

Kemajuan sebuah bangsa ditentukan oleh sejauh mana bangsa tersebut bisa menyerap ilmu pengetahun. Eko Laksono (2009), dalam bukunya IMPERIUM III menyatakan sebagai berikut:

Bangsa-bangsa terbesar dan para tokoh terbesar belajar lebih cepat, lebih banyak, lebih sistematis, dan tidak membuang banyak waktu untuk hal-hal yang tidak berguna

Rasulullah Muhammad SAW sangat mendorong kegiatan menuntut ilmu. Beliau mengatakan bahwa kelebihan orang yang memiliki ilmu pengetahun dibadingkan orang yang ahli ibadah namun tidak berpengetahuan adalah bagaikan perbandingan cahaya bulan purnama dengan cahaya bintang-bintang di langit.

Sebagai mahasiswa, apalagi mahasiswa yang berada di salah satu universitas terbaik di Indonesia, kita memiliki potensi untuk menjadi lebih baik dan lebih berkualitas. Isaac Newton pernah mengatakan, “If I have been able to see further, it was only because I stood on the shoulders of giant”. Oleh karena itulah, keberadaan kita di Universitas Indonesia (baca: giant) ini, tentunya harus membuat kita bisa menjadi jauh lebih baik dan berkembang.

Terakhir, penulis ingin menekankan bahwa disamping kita harus bersungguh-sungguh (berjihad) untuk menjadi seseorang yang cerdas dan profesional, kita juga harus berusaha untuk menguatkan kedekatan kita dengan Allah. Allah lah sumber kekuatan dan inspirasi kita. Firman Allah dalam QS AL-Imran ayat 160 sangat jelas akan hal tersebut.

“Jika Allah menolong kamu, maka tak ada yang bisa mengalahkan kamu, tapi jika Allah meninggalkan kamu, maka siapakah yang bisa menolong kamu setelah itu. Dan hanya pada Allah lah orang mukmin bertawakkal” Wallahu’alam bissh

Turning 21 in 21st Century

More mature, more achievements, and much closer to Allah. That’s the tagline for this year. Alhamdulillah, I started this 21 yo by praying tahajjud. Thank you Allah, for giving that ni’mat.

When I take a look to Islam’s heroes, most of them become a leader and write an amazing history in their 21. I also has to be as mature and as competent as them.

I really hope that I can contribute more to Indonesia this year ahead. Allah, I pray and beg you to make me become a great person. Just like prophet Muhammad, my idol. I love him really much. Ya Allah, please make the best character can be found deep inside me.

I love you Allah. That’s all. You’re the best and the only one for me. You’re the one who always supports me. You’re the place where I can cry on. You’re the place to hold when I’m so afraid and down.

Allah, thank you for the special present this morning. When I open the qur’an, I found QS Al-Mu’minun: 1-11. That was the best present I’ve ever had. I’ll always try to make myself close to you. Allah, no one can replace you in my heart. Allah, I’ll be here, always for you. Thanks Allah.

Pentingnya Peran Entepreneur, Produktivitas (Waktu yang Bermanfaat), Pemerintah, dan Self Up Grading

Bismillah,,

Semuanya bermula atau berawal dari produktivitas individu. Apa yang dapat ia hasilkan atau apa nilai tambah yang dapat ia berikan. Hakikat dari pekerjaan adalah menghasilkan nilai tambah itu sendiri. Seseorang yang menggunakan waktunya namun tidak memberi nilai tambah atau tidak menghasilkan nilai tambah, maka yang ia lakukan adalah sesuatu yang sia-sia. Ia sendiri yang akan menerima akibatnya nanti, baik berupa kegagalan, maupun keterburu-buruan dalam menghasilkan nilai tambah pada kesempatan berikutnya.

Kembali pada nilai tambah atau produktivitas. Secara sederhana kita bisa mengilustrasikan sebagai berikut. Segalanya bermula dari produktivitas sang petani. Satu orang petani akan menanam satu tanaman, petani yang lain menanam komoditas lain. Mereka lalu nanti akan saling bertukar. Pada kondisi ini, petani yang sejahtera adalah petani yang mampu menghasilkan sesuatu yang lebih banyak dan bernilai tinggi. Misalnya ia rajin menanam, menggunakan bibit ungul, berada di lahan yang subur, dll. Petani yang memperdagangkan hasil tanam nya ini tentu mendapatkan keuntungan atau profit. Lalu muncullah peran pemerintah. Pemerintah merupakan pihak yang akan mengeluarkan kebijakan (policy) agar kehidupan menjadi lebih baik. Tugas pemerintah ada beberapa, di antaranya:

  • Di antara rakyatnya tentu ada orang yang tidak mampu, misalnya karena cacat, sakit, dll. Pemerintah akan menjadi agen penyalur atau pemerata kesejahteraan tersebut. Hal ini dapat dilakukan pemerintah dengan cara memungut pajak dari para petani/pedagang tersebut.
  • Selain hal di atas, pemerintah, dengan uang pajak yang dipungut dari petani tadi, juga akan membangaun fasilitas publik. Seperti sekolah, rumah sakit, jalan, jembatan, dll. Intinya pemerintah adalah orang yang adil dan bersifat sebagai katalisator dan penengah dalam setiap penambilan kebijakan.
  • Disini terlihat secara jelas, bahwa pemerintah bisa bekerja jika ia memiliki uang yang bersumber dari pajak tersebut. Pajak akan muncul apabila petani melakukan produktivitas atau menghasilkan sesuatu atau dengan kata lain bekerja. Menciptakan sesuatu yang sebelumnya tidak ada menjadi ada.

Begitulah siklus kehidupan berjalan, selebihnya, maka adalah cerita tentang suplementary atau peran penopang. Misalnya:

  • Peran tentara. Karena adanya peluang ancaman dari daerah lain. Maka suatu negara akan memiliki tentara. Negara memiliki tentara apabila negara tersebut punya uang. Uang negara berasal dari pajak. Pajak ada jika petani atau pedagang berusaha. Jika petani tak ada, maka tak ada pajak yang bisa digunakan oleh pemerintah.

Di sini terlihat bahwa ternyata peran sentral itu berada pada petani. Petani di sini merupakan bentuk sederhana dari entrepreneur atau businessman. Seperti orang yang memproduksi mobil, memproduksi makanan (sesuatu yang akan terus ada dan berjalan), memproduksi pakaian, dll.

Ketika sudah cukup stabil, maka kebutuhan manusia pun akan semakin berkembang. Karena itulah muncul sektor jasa untuk menopang kehidupan. Seperti jasa salon, jasa cuci mobil, jasa akuntansi, jasa konsultasi manajemen, dll. Tapi tetap, intinya ada di sektor produksi tadi.

Jika kita melihat lingkup internasional, seperti lembaga World bank atau PBB. Lembaga tersebut ada karena adanya sokongan kumpulan dana dari negara-negara di dunia. Mereka pun melakukan kegiatan poverty eradication, dll. Kembali kita ingat, uang yang ada pada negara penyetor dana tesebut berasal dari dana pajak.

Hakikat yang bisa kita lihat di sini adalah, pemerintah harus selalu mendorong masyarakatnya untuk menjadi seorang entrepreneur atau orang yang bisa memberikan nilai tambah.

Jika pemerintah menginginkan negara nya maju dan berkembang, maka ia harus mensupport warga negaranya agar menjadi warna negara yang produktif, yang mampu menghasilkan sesuatu.

Mengenai masalah selanjutnya, seperti kebijakan pemerataan, pembangunan fisik, pendidikan, kesehata, dll akan bisa terselesaikan relatif lebih mudah, mengapa? karena pemerintah telah memiliki dana untuk berbuat atau bertindak.

Note:

  • Saya menjadi sadar akan peran ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan mendorong pada research and development. R&D akan mendorong pada produksi sesuatu yang bernilai tinggi. (Jadi pemerintah harus mendorong warganya untuk menjadi orang yang terdidik, lalu mendorong sebagian kecil dari mereka untuk menjadi seseorang yang benar-benar pakar dan melakukan R&D. Penemuan sesuatu yang baru yang akan bisa mendorong pada produksi masal).
  • Peran saya nantinya, misalnya dengan bekerja di IDB atau WB, maka saya akan berusaha untuk melakuakn poverty eradication, dengan membantu mereka untuk berusaha dan menghasilkan nilai tambah. Dengan cara: memberi skil dan memberi modal.
  • Sunguh sangat penting berada pada posisi eksekutif atau pada posisi pemerintah. Kita bisa membuat kebijakan yang benar-benar akan berorientasi pada kebaikan masyarakat.
  • Jika akuntansi merupakan sesuatu yang sifatnya mendukung. Ia ada karena otak yang ia miliki. Ia ada karena pengetahuannya membuat sesuatu menjadi lebih mudah, maka pada tahap persiapan ini, saya harus mengisi diri saya agar menjadi orang yang benar-benar berguna: dari sisi otak yang cerdas dan mempu menganalisa permasalahan serta memberika alternatif solusi atau ide, sampai pada menguasai skill teknis yang diperlukan. Namun tetap, bagaimana pun, kemampuan memecahkan masalah dan menghasilkan ide atau solusi merupakan sesuatu yang sanagt penting. Oleh karena itu saya harus lebih banyak membaca. KARENA MEMBACA MEMPERTAJAM OTAK, MEMBUAT DIRI KITA BISA MENGANALISA LEBIH BAIK. SELAIN ITU, TERBIASA DENGAN PEMIKIRAN DAN PENDAPAT ORANG HEBAT JUGA AKAN MEMBUAT OTAK KITA MAKIN HEBAT. (Perbanyak mendengarkan pendapat atau kuliah dari orang-orang hebat.

Allah, kutakan lah diri ku, berikanlah aku petunjuk, cerdasakanlah aku, kuatkan aku agar aku bisa menjadi seseorang yang pantas dan layak untuk memimpin negeri ini. Allah, bantulah aku untuk meng-up grade kemampuan diri ku. Allah, akau sangat yakin bahwa Engkau tahu apa yang aku butuhkan untuk berada pada posisi tersebut, maka kuatkan lah aku wahai Allah, untuk memperoleh hal tersbeut.

Hal terpenting lainnya adalah, pemimpin harus berusaha agar hukum Allah tegak di tengah-tengah masyarakat, jika hukum Allah tegak, maka pasti kehidupan akan menjadi teratur dan lebih baik. Adakah hukum yang lebih baik dari hukum Allah?

Segala sesuatu yang saya lakukan haruslah sesuatu yang bermakna,,,, (Kandungan QS Al-Ashr)

Rully Prassetya

Several Last Day of Ramadhan

Today is the last two days of ramadhan. I don’t why, but I just feel so sad. I feel something worth will leave me. If I take a look into my ramadhan this year, maybe it is the worst ramadhan that I ever had. I feel so unsatisfied with what I have done. Now, I only can regret my self, hoping next year I can meet it again and can maximize it’s presentness.

I remember Rasulullah said that who met ramadhan but when ramadhan passed his sins still not forgiven then he really a poor guy. I’m afraid that I’m included in that group. Allah, thank you for letting me meet ramadhan this year. Thank you for every great things that you have given me. Your love is unlimited and uncounted to me. I am ashamed to you Allah. How can I still live and step on your earth, but I  don’t put you on top of my mind every second. Forgive me Allah. I’ll try to be a great muslim from now on. Forgive me Allah.

Rully Prassetya

Effort and Pray

What are the things that we have to do in order  improving our capabilities? For me, nothing else except effort and pray. This two things like a two side of coin, can’t be separated.  Don’t ever dream that we can be a great person without a big effort, and also don’t ever confident that you will be an amazing person without permission or willingness of Gods.

In our daily life maybe we can see a lot of succes people which do not believe in God. If we take a deeper look, they are not happy, because the eternal happy is only when we close to God and can be benefitful for the society.

Based on this uderstanding, I’ll always  perform my best effort and make my own sefl closer with God. At the mean time, I’ll always try to make people arround me realize and do the same even better thing.

Rully Prassetya

David Eccles School of Business University of Utah, USA

Pentingnya Amal Unggulan

Dalam teori bisnis, salah satu strategi bisnis perusahaan adalah focus strategy. Pada strategi ini, sebuah perusahaan akan berfokus pada satu macam produk saja, misalnya pada handphone saja, atau pada aksesoris handphone saja. Keuntungan dari strategi ini adalah perusahaan hampir dapat dipastikan akan menjadi the best di industri tersebut karena segala research&developmentnta serta marketing dan pengembangan operation processnya berfokus pada satu bidang saja sehingga pada akhirnya ia akan menjadi perusahaan yang leading dalam industri tersbeut, dalam hal inovasi, cost, dll.

Apabila kita ambil hikmahnya, alangkah sangat baik apabila kita memiliki suatu amalan unggulan dalam hidup ini. Suatu amalan yang tidak pernah kita tinggalkan dalam hidup kita. Para sahabat Rasullullah, terkenal sebagai sahabat yang terspesialisasi, misalnya sahabat ustman dengan infaknya, ibnu mas’ud dengan bacaan qur’annya, zait bin tsabit dengan kemampuan sekretarisnya, khalid bin walid dengan jihadnya, abu hurairah dengan pengetahuan haditsnya, dll. Terlihat bagi kita bahwa mereka semua memiliki suatu spesialisasi tertentu. Sudahkah kita memiliki suatu amalan unggulan? Ada sangat banyak pilihan bagi kita semua, misalnya selalu berinfak setiap hari, atau tak pernah bolong membaca ma’tsurat, selalu shalat dhuha, dll.

Saudara ku, sudahkah kita memiliki amalan unggulan? Wallhu’alam Bisshawab.