Dari Dunia Menuju Akhirat (part 2)

Kembali lagi kepada tauhid dan kehidupan, Allah swt telah memberikan pedoman, cahaya, petunjuk, dan pelajaran kepada kita; yang apabila kita tidak mengikuti pedoman dan cahaya tersebut, bukannya mendapat kesuksesan, kita sebaliknya akan menghadapi kehidupan yang sempit di dunia ini. Allah swt mengatakan, “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta” (QS Taha:124). Atau dalam terjemahan Dr. Muhsin Khan, “But whosoever turns away from My Reminder (i.e. neither believes in this Quran nor acts on its orders, etc.) verily, for him is a life of hardship, and We shall raise him up blind on the Day of Resurrection.

Jadi sangat tidak benarlah pemikiran-pemikiran yang mengedepankan harta sebagai satu-satunya jalan untuk mendapatkan kebahagian. Allah swt telah memutuskan, bahwa orang yang berpaling dari peringatan Allah swt (i.e. Al-Qur’an), maka pasti, ia akan mendapatkan kehidupan yang sempit. Nau’dzubillahi min dzalik.

Terkait dengan Al-Qur’an, Al-Qur’an merupakan bentuk cinta Allah swt pada kita. Kita semestinya hidup dengannya dan memperkenalkannya kepada lingkungan kita. Namun sayangnya, pada saat ini, kita tidak menghiraukan Al-Qur’an. Kita tidak memperdulikan Al-Qur’an. Allah swt menyebutkan dalam Al-Qur’an bahwa kelak Rasulullah SAW akan ‘complain’ di hari akhir, bahwa umatnya telah melalaikan Al-Qur’an. “Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan.” (QS AL-Furqon:30).

Terkait dengan hidup bersama Al-Qur’an, menurut saya tidak ada deskipsi yang dapat mengalahkan untaian indah kalimat Syeikh As-Syahid Sayyid Quthb dalam kitab beliau Fi Dzilail Qur’an (di bawah naungan Al-Qur’an). Berikut adalah ungkapan beliau pada bagian pendahuluan kitab tersebut.

                Fi Zhilalil-Qur’an ‘Di Bawah Naungan Al-Qur’an’

“Hidup di bawah naungan Al-Qur’an adalah suatu nikmat. Nikmat yang tidak dimengerti kecuali oleh yang merasakannya. NIkmat yang mengangkat harkat usia manusia, menjadikannya diberkahi, dan mensucikannya.

Segala puji milik Allah yang telah memberiku karunia dengan hidup di bawah naungan Al-Qur’an dalam suatu rentang waktu, yang kurasakan nikmatnya yang belum pernah aku rasakan sebelumnya dalam hidupku. Kurasakan nikmat ini dalam hidupku, yang menjadikan usiaku bermakna, doberkahi, dan suci bersih.

Kutempuh hidup dengan kudengar Allah Yang Mahasuci berbicara kepadaku dengan Al-Qur’an ini, padahal aku sejumput hamba yang kecil. Adakah penghormatan yang tinggi dan mulia seperti ini? Adakah pemanknaan dan peningkatan harkat usia seperti yang diberikan oleh Al-Qur’an ini? Kedudukan manakah yang lebih mulia yang diberikan oleh Pencipta Yang Mahamulia kepada manusia?

Aku hidup di bawah naungan Al-Qur’an. Dari tempat yang tinggi, kulihat kejahiliyahan yang bergelombang di muka bumi. Kulihat pula kepentingan-kepentingan penghuninya yang kecil dan tak berarti. Kulihat kekaguman orang-orang jahiliyah terhadap apa yang mereka miliki bagaikan kanak-kanak; pikiran-pikiran, kepentingan, dan perhatian bagaikan anak-anak kecil. Ketika kulihat mereka, aku bagaikan seorang dewasa yang melihat permainan anak-anak kecil dan tutur katanya yang pelat seperti anak kecil.

Mengapakah manusia-manusia ini? Mengapa mereka terbenam di dalam lumpur lingkungan, tanpa bisa dan mau mendengar seruan yang luhur dan mulia, seruan yang mengangkat harkat kehidupan, menjadikannya diberkahi dan menyucikannya?

Aku hidup di bawah naungan Al-Qur’an sambil bersenang-senang dengan menikmati gambaran yang sempurna, lengkap, tinggi, dan bersih bagi alam wujud ini, tentang tujuan alam wujud ini seluruh nya dan tujuan wujud manusia. Kubandingkan dengan konspesi jahiliyah tempat manusia hidup, di timur dan di barat, di utara dan di selatan, dan aku bertanya, “Bagaimanakan manusia hidup di kubangan yang busuk, di dataran paling rendah, dan di dalam kegelapan yang hitam pekat, sementara di sisinya ada tempat penggembalaan yang subur, tempat pendakian yang tinggi, dan cahaya yang cemerlang?”.

Aku hidup di bawah naungan Al-Qur’an; kurasakan simponi yang indah antara gerak kehidupan manusia yang dikehendaki Allah dan gerak alam semesta yang diciptakan-Nya. Kemudian, kuperhatikan lagi kehidupan jahiliyah maka terlihat olehku kejatuhan yang dialami manusia karena menyimpang dari Sunnah kauniyah dan benturan antara ajaran-ajaran yang rusak srta jahat yang telah lama kemanusiaan bercokol di atasnya dan fitrah yang diciptakan Allah untuknya. Aku berkata dalam hati, “Setan keparat manakah gerangan yang telah membimbing langkah mereka ke neraka jahim ini?”. Wahai betapa ruginya manusia ini!!!

Aku hidup di bawah naungan Al-Qur’an; kulihat alam wujud ini jauh lebih besar daripada kenyataan lahiriyah yang terlihat ini. Lebih besar hakikatnya, lebih banyak sisinya. Ia adalah alam gaib dan alam nyata, bukan cuma alam nyata saja. Ia adalah dunia dan akhirat, bukan Cuma dunia ini saja.

Akhirnya, sampailah aku dalam masa hidupku di bawah naungan Al-Qur’an kepada keyakinan yang pasti bahwa tidak ada kebaikan dan kedamaian bagi bumi ini, tidak ada kesenangan bagi kemanusian, tidak ada ketenangan bagi manusia, tidak ada ketinggian, keberkatan, dan kesucian, dan tidak ada keharmonisan antara undang-undang alam dengan fitrah kehidupan melainkan dengan kembali kepada Allah.

Kembali kepada Allah-sebagaimana yang tampak di dalam baying-bayang Al-Qur’an-memiliki satu bentuk dan satu jalan. Hanya satu, tidak ada yang lain. Yaitu, mengembalikan semua kehidupan kepada manhaj Allah yang telah ditulisnya di dalam kitab-Nya yang mulia bagi kemanusian. Yaitu, dengan menjadikan kitab ini sebagai pengatur di dalam kehidupannya dan berhukum kepadanya dalam semua urusannya. Kalau tidak begitu, kerusakanlah yang akan terjadi di muka bumi, kesengsaraan bagi manusia, terbenam ke dalam lumpur dan kejahiliyahan yang menyembah nafsu selain Allah.

…Dan demikian pulalah yang terjadi pada masyarakat Islam sendiri. Langkah naiknya dimulai dari titik pertemuan hukum alam dengan nilai-nilai iman di dalam hidupnya, dan langkah kejatuhannya dimulai dari titik pemisahan antara keduanya.”

 

Kitapun di Indonesia sering kali menganggap nilai-nilai barat jauh lebih superior. Kita ikut tidak percaya (meragukan) ajaran Islam. Bahkan menuduh ajaran Islam ini telah lapuk ditinggal zaman. Sejak Islam mundur, manusia telah kembali kepada kejahiliyahan, mengagungkan kenikamatan dunia yang menipu. Negeri Islam pun telah terpecah belah. Para elit penguasa di setiap negeri berusaha mengambil sebanyak-banyaknya kekayaan negeri (extractive institution). Sungguh, solusi dari segala permasalahan sosial, ekonomi, keamanan, dll adalah tauhid. Tentunya sangat tepat bila kita mengatakan, Islam is the way of life; thus it is imperative to know Al-Qur’an and hadits to live Islam. Because in every single time, we are a Muslim.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s