Economic Series (2): Asian Financial Crisis 1997 and a bit of Reflection

Asian Financial Crisis 1997 has left many impacts to Indonesia. Its impacts range from  the current political order, current economic system, culture, and many others. Unfortunately, this important episode in Indonesian history is not really well understood by many Indonesian youth, including me, until recently, when I take a class on Asian Financial Market at the University of Tokyo. Since the main target for this writing is Indonesian youth, I’ll use Bahasa Indonesia.

Banyak di antara kita yang tidak terlalu paham dengan apa yang sebenarnya terjadi saat krisis keuangan tahun 1997. Ada yang memahaminya sebagai serangan spekulasi, ada yang bilang merupakan bank run, ada yang hanya tahu bahwa Indonesia dibuat lemah oleh IMF, dan yang pasti, ada yang tidak tahu apa pun sampai sekarang. Saya akan coba sedikit jelaskan dan mengambil beberapa pelajaran dari episode crisis ini.

Krisis keuangan tahun 1997 ini berawal dari serangan spekulatif atas mata uang Bath Thailand. Serangan spekulatif ini pun sebenarnya bukan tanpa alasan mengapa Thailand yang dipilih; mengapa bukan Indonesia, bukan Malaysia, dst. Sejak tahun 1994, Thailand mengalami perlambatan pada kinerja ekspornya. Sejak tahun 1994, nilai import Thailand jauh lebih besar dari pada nilai ekspornya. Ekonom menyebut hal ini dengan current account deficit. Salah satu penjelasan mengapa terjadi perlambatan pada ekspor Thailand pada tahun 1994 adalah karena Cina mendevaluasi mata uang nya pada tahun tersebut sehingga ekspor Cina menjadi lebih murah dibanding Thailand dan negara lainnya.

Pada saat yang sama, modal asing yang masuk ke Thailand tetap positif, dengan persentase terhadap GDP yang jauh lebih besar dibandingkan current account deficit. Hal ini pun berdampak sedikit tricky pada sebagian analisis. Current account yang negatif bila dijumlahkan dengan capital account yang positif, namun lebih besar, menunjukkan seolah-olah Thailand is fine, Thailand is ok. Namun sebenarnya tidak demikian.

Kemudian George Soros and his friends came, speculative attack pun diluncurkan pada Thai Bath di swap market, pada April 1997. Pada Juli 1997, Bank sentral Thailand (Bank of Thailand/BoT) menyadari bahwa tekanan spekulasi ini terlalu kuat dan tahu bahwa saat transaksi swat direalisasikan, BoT akan kehabisan cadangan devisanya. Pada akhirnya BoT pun mendevaluasi mata uangnya sekitar 20%. Thailand akhirnya meminta bantuan finansial pada IMF. Thailand resmi masuk menjadi ‘pasien’ IMF sejak Agustus 1997.

Then the story continue to Indonesia. Pada saat itu kondisi makroekonomi Indonesia berada dalam keadaan yang sangat baik. Namun untuk berjaga-jaga, pemerintah Indonesia pun meminta IMF untuk juga memberi bantuan pada Indonesia. Ada yang mengatakan juga bahwa sebagian teknokrat (ekonom) Indonesia pada waktu itu meresa bahwa itulah saat yang tepat untuk ‘mereformasi’ ekonomi Indonesia, dari yang didominasi oleh perusahaan negara dan keluarga Soeharto menjadi ekonomi yang lebih ‘liberal’.

Sebagai pra-syarat masuk ke program IMF, IMF meminta pemerintah Indonesia untuk menutup sejumlah bank yang dinilai berkinerja buruk, sekitar 16 bank kalau tidak salah. Nonetheless, apa yang mereka (ekonom) perkirakan ternyata tidak tepat, atau mungkin terlalu meng-underestimate impact penutupan bank tersebut. Setelah bank-bank tersebut ditutup, masyarakat pun menjadi panik. Karena tidak ada penjelasan yang jelas dari pemerintah mengapa bank-bank tersebut ditutup, masyarakat takut bahwa mungkin bank yang lainnya juga akan segera ditutup. Di sinilah bermula bank run dan capital flight di Indonesia. Maryarakat beramai-ramai ingin mengambil uangnya di bank (tentu saja bank tidak punya persedian uang yang cukup karena tabungan masyarakat itu disalurkan pada kreditor), orang-orang pun juga segera mengalihkan uangnya ke US Dollar atau mata uang lainnya yang dianggap aman.

From here, krisis pun menjadi semakin buruk di Indonesia. Nilai tukar pun ‘ambruk’ dari sekitar Rp2.500 per US Dollar menjadi Rp16.000 per US Dollar. Banyak perusahaan yang bangkrut, pengangguran meningkat, inflasi, dll. Hal ini pun diperburuk oleh ‘resep’ IMF yang sangat salah dalam membantu ekonomi Indonesia. The rest of the story, we know it, president Soeharto pun mundur dari jabatannya. Indonesia pun masuk ke era reformasi yang ditandai oleh demokrasi.

Sebagai refleksi, ada beberap hal yang cukup menarik menurut saya. Pertama, peristiwa ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia is a strong-persevere society. masyarakat Indonesia berhasil melalui hal yang cukup drastis dan turbulent tersebut. The fact that saat ini Indonesia masih utuh dan perekonomiannya tumbuh dengan pesat, menunjukkan bahwa bangsa Indonesia mampu bangkit dengan cepat dan beradaptasi dengan kondisi baru. Kedua, meskipun Indonesia mengalami saat yang pahit pada 1997 sampai awal 2000-an, saat ini Indonesia sudah menjadi negara yang demokratis. Meskipun demokrasi juga memiliki cukup banyak kelemahan, namun sekarang kita bisa dengan lebih bebas mempraktekkan agama kita, termasuk agama islam. Da’wah berkembang dengan pesat, jumlah muslimah yang menggunakan kerudung dengan baik semakin bertambah, dll. Kita pun juga bisa menyampaikan kritik kita pada pemerintah, sesuatu yang sebelumnya tidak bisa dilakukan. Ketiga, semua reform yang Indonesia lakukan pada saat krisis tersebut telah membantu Indonesia menjadi negara yang manajemen ekonomi nya jauh lebih baik sehingga tidak terlalu terpengaruh oleh krisis tahun 2008 yang lalu dan juga krisis hutang euro zone saat ini.

Sebagai penutup, menurut saya, there must be a reason mengapa Allah menetapkan bahwa Indonesia harus mengalami krisis tahun 1997 yang lalu. Sebagaiman yang disebutkan dalam Qur’an bahwa bersama kesulitan akan ada kemudahan, dan juga dalam budaya China bahwa krisis itu berarti ancaman dan peluang, kita harus manfaatkan kesempatan yang kita miliki sekarang untuk membuat Indonesia menjadi lebih baik. Yes, it seems that korupsi semakin banyak di Indonesia, but again, tak ada yang bisa merubahnya kecuali dengan usaha kita sendiri dan dengan izin Allah.

So, let’s prepare ourselves, mari kita berusaha menjadi orang makin baik dari hari ke hari, menjadi muslim yang bermanfaat bagi orang sekitar, sehingga Allah pun semakin ridha dengan kita. Semoga bermanfaat. Salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s