Becoming a Mapres

Berhubung cukup banyaknya mahasiswa, bahkan siswa, yang meminta saya untuk berbagi tentang bagaimana menjadi seorang mapres (mahasiswa berprestasi), I’ll try to share my experience. Pada tulisan singakat ini, saya akan membagi penjelasan saya pada empat hal. Pertama, terkait nature dari mapres itu sendiri; kedua, pengalaman saya mengikuti mapres; ketiga, tips-tips menjadi mapres; dan keempat, refleksi saya atas segala proses ini.

Pertama, nature dari mapres atau mahasiswa berprestasi. Banyak mahasiswa yang berkeinginan menjadi seorang mapres, baik karena prestige yang ada pada gelar tersebut, atau mungkin karena financial reward dari kompetisi tersebut. Ketika saya merupakan mahasiswa baru di UI pun (tahun 2007), saya pun tercetus ingin menjadi seorang mapres, melihat ‘kerennya’ kakak-kakak mapres yang diminta hadir dan diberi penghargaan saat wisuda berlangsung (saat itu saya salah satu anggota paduan suara universitas). However, seiring dengan munculnya berbagai macam aktivitas, keinginan itu pun semakin pudar, tepatnya terlupakan. I just enjoy my life as a student back then.

Kedua, terkait pengalaman saya terkait mapres. Menurut saya, kurang tepat rasanya jika mapres dijadikan sebagai tujuan, rather, for me it’s just a recognition for everything that we’ve done. Menurut saya yang terpenting adalah bagaimana kita bisa memanfaatkan berbagai potensi yang ada di kampus ini, mengembangkan potensi diri kita, dan berkontribusi bagi orang lain. Terkait dengan mengembangkan potensi diri, saya ingin sedikit elaborasi. Ketika saya diterima di Universitas Indonesia tahun 2007, saat itu saya hanyalah seorang siswa yang buta internet (even tidak mengerti bagaimana cara menggunakan email, seacrh di google, etc). Saat itu saya juga sangat-sangat tidak bisa berbahasa inggris. Baru dua kali naik pesawatm tidak pernah keluar negeri, dll. Lalu saya merasa bahwa Allah memberi bimbingan pada saya. Tanpa ada niat pragmatis ingin menjadi mapres dll, saya hanya berusaha bagaimana saya bisa bermanfaat besar bagi orang-orang di sekitar saya. Mulailah segala proses itu berjalan. Baru sekitar satu bulan di UI, saya diminta menjadi ketua SALMAN (Salam Muda Mandiri), semacam rohis angkatan UI dibawah naungan Salam UI. Saya pun juga ikut bantu-bantu di sahabat asrama UI, menjadi ketua kelas di 5 dari 6 kelas di semester 1, dll. Pada semester 2 pun, saya diamanahi menjadi ketua sahabat asrama. Proses itu pun bergulir dengan sendirinya, tanpa pernah saya rencanakan secara ambisius. Niat saya pada waktu itu hanya bagaimana saya bisa bermanfaat besar bagi orang di sekitar saya, saya menjadi semakin dekat dengan Allah, dan kapasitas diri saya berkembang.

Lalu apa manfaat menjadi seorang mapres? Selain financial reward yang kita dapatkan, total dari tingkat fakultas sampai nasional saya mendapat sekitar 22 juta, kita akan mendapatkan lebih banyak kesempatan untuk berbagi manfaat bagi orang lain. Setelah saya terpilih  menjadi mapres tingkat fakultas, universitas, dll, banyak teman-teman yang meminta saya untuk sharing-sharing dengan mereka terkait tips-tips belajar, bagaimana membuat karya tulis yang baik, bagaimana menyeimbangakan akademis dengan organisasi, dengan ibadah, dll. Saya merasa bahwa kesempatan bertemu dan berbagi dengan semua orang inilah yang merupakan reward terbesar bagi diri saya. Kesempatan untuk didengarkan dan memberi suggestion pada orang lain, merupakan sesuatu yang sangat luar biasa. Setelah terpilih menjadi mapres ini, mungkin sudah lebih dari 30 forum yang saya hadiri untuk berbagi, baik bagi siswa SMA, teman-teman mahasiswa, para guru-guru, dll.

Thirdly, terkait tips-tips menjadi mapres. Berhubung sangat ketatnya kompetisi mapres ini, maka saya berpesan bagi siapun yang ingin  mengikuti kompetisis ini, it’s not a one night competition. Ini bukanlah kompetisi yang kita bisa mempersiapkannya dalam satu malam. Ini merupakan sebuah proses, yang berjalan selama tiga atau empat tahun. Hal yang akan dilihat pada kompetisi ini adalah apa yang telah kita lakukan selama tiga atau empat tahun terakhir dan bagaimana diri kita berkembang setelah tiga atau empat tahun tersebut. Walaupun sebelumnya saya mengatakan bahwa saat tahun satu kuliah saya tidak pernah begitu ambisius menargetkan bahwa saya harus menjadi mapres, namun saya selalu berusaha memaksimalkan waktu yang saya miliki saat kuliah tersebut. Sehingga pada akhirnya memang terpilih sebagai seorang mapres. Beberapa tips penting menurut saya adalah perbanyak mengikuti organisasi mahasiswa, perbanyak mengikuti lomba-lomba dan konferensi, baik tingkat nasional maupun internasional. Jika kita melihat format CV mapres ini, mungkin kita akan sedikit terkejut terkait detail dan komprehensifnya form CV yang harus diisi. Ini adalah form CV yang harus diisi: Template CV Mapres (bisa dilihat betapa komprehensifnya). Terkait technical aspect, usahakan karya tulis yang disubmit merupakan karya tulis yang membahas suatu masalah secara komprehensif dan memberikan solusi yang komprehensif pula. Terkait CV, jangan lupa untuk melampirkan bukti-bukti pendukung, seperti sertifikat dan surat keterangan.

Lastly, terkait refleksi saya atas proses ini. Setelah saya melihat atas apa yang telah terjadi dalam empat tahun terakhir di hidup saya, saya hanya bisa berkata, la haula wala quwwata illa billahi ‘alaiyyul ‘adzim. Sungguh, tiada daya dan upaya melainkan karena pertolongan dari Allah SWT. Saya benar-benar merasakan betapa Allah SWT yelah membimbing dan menguatkan saya menjadi semua proses ini. Sesuatu yang sebelumnya terlihat tidak mungkin menjadi mungkin. Selain itu, satu notion yang membuat saya semangat menjalani proses mapres ini dan dalam hal apa pun adalah notion bahwa sebagai seorang muslim, kita harus menjadi yang terbaik. Allah telah mengatakan bahwa kita adlaah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, selama kita terus beramar ma’ruf nahi munkar dan beriman pada Allah SWT. Finally, I would like to endorse you all to maximize the time and the health that we have so that we can maximize our benefit to the society. mari kita selalu berdo’a pada Allah, agar Allah selalu memberi kita hidayah serta selalu menguatkan kita. Have a great life ahead! Rully.

5 thoughts on “Becoming a Mapres

  1. Pingback: Pemilihan Mahasiswa Berprestasi: An Awkward yet Fabulous Moment in My Life ^^ « Passionate Learner

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s