Ceritaku

Kawan, aku ingin bercerita pada mu tentang hidup dan kehidupan. Aku ingin bercerita pada mu tentang sesuatu yang menjadi ciri khas kehidupan ini, ketidakadilan. Aku ingin bercerita pada mu tentang realita yang sebenarnya. Sesuatu yang mungkin belum kita sadari.

Pada suatu ketika, seorang mahasiswa dari kota metropolitan datang ke kampung tempat ia dilahirkan. Tempat kelahiran yang sangat jarang ia kunjungi semasa hidupnya. karena ia dibesarkan di daerah lain. Mahasiswa ini datang dari sebuah metropolis, di mana remaja seusianya terbiasa menghabiskan waktu berjam-jam menonton film hollywood, remaja yang dengan begitu entengnya mengeluarkan 30 ribu untuk menonton film di bioskop tiap pekan, remaja yang biaya pulsa handphonenya lebih dari 100ribu tiap bulan, makan dengan enak setiap saat, punya banyak pilihan makanan setiap saat. Bahkan sering mengeluh karena makanan yang ia makan hanya ‘itu-itu saja’.

ketika mahasiswa ini memasuki kampung kelahirannya, yang sangat sederhana, ia bagaikan sebuah raja yang dielu-elukan oleh sanak familinya di kampung. Oleh nenek, adik-adik ibu nya, puluhan sepupu-sepupunya, dll. Mereka begitu bahagia dengan kehadiran dirinya. Sesuatu yang diluar perkiraan si mahasiswa, yang bahkan ia tak begitu peduli dan jarang memikirkan kondisi keluarga ‘jauh’ yang ada di kampung kelahirannya.

Selama di situ ia dipuji-puji akan kampusnya, kuliah di ibu kota, akan perawakannya yang makin tampan, dll. Ketika ia akan pamit pulang, ia berniat memberi kenang-kenangan pada keluarga nya itu. Langsung saja ia menitipkan beberapa buah jilbab murah yang ia beli menjelang ke kampung itu, yang harga perbuahnya tidak sampai sepuluh ribu rupiah, lalu beberapa lembar uang dua ribu baru.

Hal yang tidak pernah ia bayangkan terjadi, ternyata keluarganya berebut akan apa yang ia tinggalkan. Bahkan hampir saja mereka berselisih memperebutkannya. Seketika ia menjadi begitu iba, terpukul, sebegitu memprihatinkankah kondisi mereka? Padahal bahkan untuk sekali makan saja ia menghabiskan 10 ribu bahkan lebih.

Ia pun tersadar, bahwa kehidupan ia selama ini tidak mencerminkan realitas masyarakat negaranya yang sebenarnya. Semenjak itu ia sadar, bahwa ia harus berjuang untuk masyarakat seperti keluarga di kampung kelahirannya, yang jumlah masyarakat seperti itu sangat banyak jumlahnya. Ia bertekad untuk menjadi orang yang cerdas, pengambil kebijakan, dan berpengaruh.
Ia benar-benar ingin menggunakan jabatan yang akan ia emban nantinnya sebagai sesuatu yang bermanfaat besar bagi masyarakat. For the sake and the best of its society. Tekad itulah yang terus membakar semangatnya, menginspirasi gerak langkahnya. Ia terus semangat mencari ilmu, agar kelak, ia bisa membuat perubahan, menjadi perubahan itu sendiri.

Kawan, itulah cerita sederhana yang mungkin bisa kita ambil semangatnya. Saat ini, betapa banyak orang yang terdzalimi oleh penguasa yang hanya memperhatikan kepentingan pribadi, sedang menunggu kedatangan kita. Mereka menunggu sebuah perubahan, mereka menunggu perbaikan. Bukan hanya kita saja yang berhak menikmati kebahagian di dunia ini, sedangkan mereka adalah orang yang telah digariskan menjadi bagian marjinal. Tidak! Itu tak bisa terjadi, kita adalah rahmat bagi seluruh manusia, dan kita harus membuktikannya. Mari perkaya wawasan kita, pertebal karakter kita, perkuat keinginan untuk berkontribusi lebih. Yakinlah, Tuhan tak akan pernah menyia-nyiakan semangat hambanya yag ingin melakukan perbaikan. God always with us.

By Rully Prassetya

Faculty of Economics University of Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s