Manusia, khalifatul fil ardh?

Allah telah menciptakan manusia sebagai khalifah di atas muka bumi ini. Khalifah di sini bisa bermakna bahwa Allah menjadikan kita manusia sebagai wakilNya di muka bumi ini. Allah yang maha pengasih dan penyayang tentu menginginkan kita untuk juga berbuat pengasih dan penyayang kepada seluruh makhlukNya. Nah, pertanyaan besar selanjutnya adalah apakahyang bisa menjadi panduan bagi kita, apakah yang bisa menjadi pedoman bagi kita? Karena di atas muka bumi ini tentu trbentang banyak jalan, kita selaku manusia bisa dikatakan bebas untuk berbuat apa saja yang kita inginkan. Di tengah kebingungan itu, Al-Qur’an dan Rasulullah adalah jawabannya. Simpel saja, ketika kita ingin berbuat sesuatu, kita tinggal bertanya pada diri kita, “mungkinkah Rasul akan melakukan ini?” Misalnya, ketika kita lewat di depan seorang pengemis, kita hanya punya uang yang pas-pasan, kiat bimbang harus menyedekahkan atau tidak, kita tinggal berpikir, jika posisi itu ada pada rasulullah, apa yang akan beliau lakukan, dengan tanpa ragu, tentu kita akan berkata, bahwa rasulullah pasti akan menyedekahkan uang tersebut, itulah salah satu contoh cara mengambil peran atau tindakan yang tepat  dalam suatu kondisi di sisi lain hal ini pun sekaligus merupakan aplikasi dari menjadikan Rasulullah SAW sebagai pedoman hidup kita.

Sebagai khalifah di atas muka bumi ini, tentu ada karakter-karakter yang harus kita miliki. Terkadang pun kita bingung, karakter seperti apakh yang harus kita miliki. Saya berpikir, bahwa kita merupakan wakil Allah di muka bumi ini, maka tentu kita pun harus memiliki atau memakai “karakter Allah”, maksudnya sifat-sifat yang dimiliki oleh Allah, lalu dari manan kita tahu? Jawababnya ada pada asma’ul husna, pada 99 buah asma’ul husna terdapat 99 buah sifat Allah, kita bisa mengambil turunanya. Misalnya, sifat ArRahman yang berarti pengasih, maka berarti kita pun harus bersifat pengansih pada orang0orang yang ada di sekitar kita. Contoh lain, ArRasyid, yang artinya Yang maha cerdas, itu artinya kita pun harus menjadi seseorang yang cerdas, begitu seterusnya. Hal ini lah yang coba dijelaskan oleh Ari Ginanajar Agustian, pendiri ESQ Training 165, tentang penghayatan nilai-nilai asma’ul husna dalam kehidupan kita. Wallahu’alam bisshawab.

 

Rully Prassetya

Accounting Student, University of Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s